Kamis, 24 November 2016

Tulisan : Antara Kata dan Akibatnya

Beberapa menit yang lalu, aku rajin membuka satu persatu postingan dari blog kurniawan gunadi (dikenal masgun) seorang penulis yang kebetulan aku bukan pembaca buku setianya karena aku belum mempunyai salah satu buku karyanya. Tidak diragukan lagi, setiap tulisan yang dimuat diblognya penuh dengan pelajaran yang bisa aku ambil hikmahnya. dan dibawah ini adalah salah satu tulisan yang amat aku suka, karena aku pun pernah mengalami hal ini (sebagai korban) .


***

Seorang pria muda celingak-celinguk di koridor utara masjid. Berharap tak seorangpun melihatnya. Sebuah buku merah jambu dia keluarkan dan ia baca dengan hati-hati. Tanpa disangka, seorang teman menganggetkannya. Perhatiannya tertuju pada buku merah jambu dan merebutnya. Sambil berteriak ke arah teman yang lain,“Hai, si X lagi baca buku Persiapan Terbaik Sebelum Nikah ni”. Malu bukan kepalang, sejak saat itu si X tidak akan lagi membaca buku soal persiapan nikah. 

Di belahan bumi yang lain. Seorang remaja putri asik membaca buku merah jambu di kamar kos-nya. Teman-teman se-kajian-nya tiba-tiba berkunjung. Bersegera ia menyembunyikan buku itu agar tak sampai diketahui. Tak disangka, buku itu terlihat dan diambil. Lagi, temannya itu menertawakannya dan mangatakan : “Ciyeeee galau amat bacaannya”. Esoknya dia membuang buku itu di tempat sampah. #esktrimsekali

Di belahan bumi yang lain pula. Ada seorang aktivis kampus dan aktivis masjid yang sangat keren. Tegar perkasa, membuat meleleh setiap cewek yang memandangnya. Pada suatu ketika, ada buku merah jambu yang ia bawa di tasnya dan diketahui oleh teman-teman se-aktivis-nya. Tersiarlah kabar seantero dunia bahwa dia lagi galau mau nikah. Dan dengan entengnya, aku salah satu dari mereka berkata. “Lemah sekali kau bacaannya, hahahaha” 

Sering, sering sekali aku. Jika kalian merasakan hal yang sama juga mungkin saja. Seringkali aku mengatakan hal seperti itu kepada orang lain. Kepada orang-orang yang ingin belajar tentang hal itu (nikah) dan mengatainya. Membuat mereka urung untuk memulai belajar. Aku pun mengalami hal serupa, dikatakan ini itu sebab mengikuti sebuah Sekolah Pra Nikah dari Masjid Kampusku. Atau sebab buku bacaanku cenderung mengarah kesana, atau tulisan yang aku buat sebagian besar mengindikasikan hal tersebut. 

Aku berpikir akhir-akhir ini. Setelah berpikir seperti itu, aku berjanji tidak akan melakukan hal serupa kepada siapapun. Aku akan menjadi orang yang mendukung. Pernah aku terpikir, jangan-jangan, Akulah kelak yang menjadi penyebab keretakan dan ketidak harmonisan keluarga teman saya. Hanya sebab dulu ketika teman saya ingin belajar tentang menikah baik dari buku/sekolah/pengajian aku menertawakannya dan membuatnya urung, menjadi malu untuk belajar hal tersebut.

Pernah aku terpikir, jangan-jangan. Akulah kelak yang menjadi sebab ketidakrukunan keluarga teman-temanku. Hanya karena aku menertawakannya ketika teman laki-lakiku sedang belajar mengenai perempuan melalui buku. 

Aku telah menertawakannya dan membuatnya enggan belajar lagi sehingga dia tidak bisa memahami perempuannya kelak suatu hari nanti. Aku merasa bersalah dan berjanji tidak akan menertawakan dan mengatai siapapun yang ingin belajar tentang nikah. Akan aku sediakan seluruh buku-buku ku yang mengarah ke hal tersebut untuk dipinjamkan. 

Akan aku sediakan waktuku untuk mendukungnya belajar sebaik-baiknya. Seringkali dalam hidup, kita tidak bisa mengontrol apa yang kita katakan. Meski itu sebuah candaan. Tapi tidak semua orang menganggap itu adalah sebuah candaan. Apa susahnya bagi kita untuk mendukung niat baik seseorang. Seseorang tidak akan menjadi lemah hanya karena ikut sekolah pra nikah. Seseorang tidak akan menjadi galau hanya karena ingin menikah. 

Aku adalah orang yang akan mendukung teman-teman. Aku tidak akan lagi menertawakan, tidak akan lagi mengatai galau dan sejenisnya. Aku tidak ingin menjadi sebab, ketidaksiapan teman-teman untuk menikah, dan menjadi sebab ketidaktahuan dan kekurang-ilmuan teman-teman dalam berumah tangga nantinya. 

 Aku minta maaf kepada siapapun yang pernah aku tertawakan dan aku katai. Belajarlah, aku akan menjadi orang yang mendukung :) ?


***

Ayo dukung!!

1 komentar:

  1. Tulisan beliau jadi teguran dan peringatan untuk tidak selalu menyikapi sesuatu dengan canda. Canda bagi kita, luka baginya.

    BalasHapus

Selesai berkomentar ucapkan Alhamdulillah
@tiameirizta